Kamis, 03 April 2014

asal usul logo kupu-kupu SLANK

ASAL USUL LOGO KUPU-KUPU SLANK
Kupu-kupu
yang melambangkan kebebasan dan
keindahan. Dalam album
tersebut, terdapat sepuluh lagu dengan
aliran rock n roll dan
blues dengan tema yang beraneka,
seperti cinta, sex and
party,dan kritik sosial. Salah satu lagu
yang menjadi andalan
mereka adalah Maafkan.
Pasca dirilisnya album pertama
tersebut, nama Slank semakin
dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Prestasi perlahan
menghampiri. Salah satunya
penghargaan dari BASF Award
kategori Best Selling Album for Rock
Category dan “Pendatang
Baru Terbaik”. Eksistensi Slank pun
tidak berhenti di situ. Berturut-
turut hingga tahun 1995, mereka
berhasil merilis empat album,
yakni Kampungan (1992), Piss (1993),
Generasi Biru (1994) (album
perdana dengan status indie label di
bawah naungan Piss Record)
, dan Minoritas (1995). Sebuah
pencapaian yang membanggakan.
Pada tahun 1996, Slank mengalami
sedikit kegoyahan, yakni
keluarnya Bongky, Indra, dan Pay dari
formasi Slank. Pasca
keluarnya tiga personel tersebut, Bim-
bim segera mencari
penggantinya, dan bergabunglah Ivanka
(bass) dan Reynold
(gitar). Formasi ini ternyata berhasil
melahirkan sebuah album
bertajuk Lagi Sedih dengan lagu
andalan Tonk Kosong. Setelah
dirilis album tersebut, ternyata Reynold
memilih keluar dari Slank.
Slank pun segera mencari pengganti
posisi gitaris melalui audisi.
Tidak lama berselang bergabunglah dua
personel baru, yakni
Abdee dan Ridho sebagai gitaris.
Formasi ini yang kita kenal sampai
sekarang, (baca: Bim-bim,
Kaka, Ivanka, Abdee, dan Ridho).
Mereka berhasil merilis tiga
belas album, (belum termasuk album
kompilasi, dan Original
Sound Track). Album tersebut antara
lain; Tujuh (1998), Mata Hati
Reformasi (1998), 999+09 (1999), Virus
(2000), Satu Satu (2003),
Road To Peace (2004), PLUR (2005),
Slankissme (2005), Slow But
Sure (2007), The Big Hip (2008), Anthem
for The Broken Hearted
(2009), dan Jurus Tandur (2010).
Beberapa tema lagu Slank
Slank memang terbilang unik, ketika
penyanyi dan grup musik
lain hanya membawakan lagu bertema
cinta, Slank tidak
demikian. Beberapa tema berbeda kerap
dibawakan oleh Slank,
antara lain cinta, kritik sosial, alam,
gaya hidup, tema-tema
ekspresif, dan tema-tema socia
movement. Slank pun dikenal
sebagai grup yang sering mengkritik
pemerintah. Tentu kita
masih ingat lagu Gossip Jalanan yang
sempat membuat gerah
anggota DPR pada tahun 2008. //Mau
tahu gak mafia di
Senayan// Kerjaannya tukang buat
peraturan// Bikin UUD//
Ujung-ujungnya Duit//. Sebenarnya,
bukan kali ini saja Slank
membawakan lagu bertema kritik sosial,
dari album pertama
Slank sudah membawakan lagu-lagu
kritik sosial, seperti Apatis
Blues, Piss, hingga Pak Tani.
Slank dan Slankers
Ketika kita membahas Slank, maka tidak
akan dapat dipisahkan
dari Slankers, komunitas penggemar
yang sangat setia dan
fanatik. Komunitas Gang Potlot ini
telah ada sejak tahun 1983,
bahkan sebelum Slank masuk dapur
rekaman. (Wawancara
dengan Bens Leo, 28 Maret 2011).
Namun, nama Slankers baru
digunakan pada tahun 1992, setelah
album kedua dirilis. Gaya
berpakaian Slank yang slengean dan
gaya rambut gondrong
ternyata banyak diikuti oleh
penggemarnya. Para penggemar
tersebut sering disapa Slank.
Untuk membedakan antara Slank dan
penggemarnya, maka Kaka
menjuluki me-reka dengan istilah
Slankers. (Wawancara dengan
Bim-bim, 1 Februari 2011). Jumlah pasti
Slankers saat ini memang
masih rancu. Jika diukur dari jumlah
penjualan album Slank,
maka jumlah Slankers mencapai angka
400.000 orang. (Lihat
Mimpi Pulau Biru Sabang-Merauke dalam
Gatra, 18 Januari 2003).
Sebuah angka yang fantastis bagi
komunitas penggemar grup
musik di Indonesia. Tidak hanya disitu,
simbol Slank bergambar
kupu-kupu sering kita lihat tertera di
bendera, kaus, sandal, dan
atribut lainnya yang kerap digunakan
oleh para Slankers.
Bahkan, hampir di setiap konser musik,
bendera Slank dipastikan
berkibar, meski terkadang Slank tidak
tampil dalam konser
tersebut. Maka tidak berlebihan jika
saya menjuluki Slank sebagai
“band sejuta umat”. Bagi Slankers,
Slank bukan hanya sekedar
musik, melainkan telah menjadi ideologi
(baca: Slankissme). Slank
tidak pernah bosan menyampaikan nilai
positif di dalam setiap
lagunya yang kemudian dijadikan
pedoman bagi para
penggemarnya. Slank telah
menyebarkan virus perdamaian dan
pembebasan bagi para generasi muda
yang terkesan selalu
digurui oleh tetua. Istilah Generasi Biru
kerap disandangkan
kepada para Slankers, generasi yang
bebas, slengean tapi
bertanggung jawab.
Hilir
Melalui lirik lagu, musik, gaya hidup
slengean, Slank menjadi
bagian yang tak terpisahkan dari
bangsa Indonesia. Slank pun
tidak dapat dipisahkan dari Slankers.
Loyalitas mereka tidak perlu
dipertanyakan. Bahkan saking
banyaknya Slankers, Slank kerap
didekati oleh beberapa partai politik,
karena mereka melihat
potensi yang sangat besar yang dimiliki
oleh Slank. SELAMA
REPUBLIK INDONESIA MASIH ADA,
SLANK AKAN TETAP ADA
(Bim-bim)